Kinerja Sektor Perikanan Maluku Utara 2020–2024: Tumbuh Stabil, Potensi Ekspor Terus Meningkat

  1. Lembaga Studi Pembangunan Ekonomi Maritim dan Kepulauan (LeSPOMIK) merilis analisis terbaru terkait kinerja sektor perikanan di Provinsi Maluku Utara selama periode 2020 hingga 2024. Berdasarkan data grafik yang ditampilkan, sektor perikanan tangkap, budidaya, dan ekspor menunjukkan tren pertumbuhan positif dan berkelanjutan, menegaskan peran strategis sektor ini dalam mendukung ekonomi maritim daerah kepulauan.

Pertumbuhan Produksi Perikanan Tangkap

Produksi perikanan tangkap Maluku Utara mengalami kenaikan signifikan dari Rp3,2 triliun pada 2020 menjadi Rp4,7 triliun pada 2024. Kenaikan ini memperlihatkan:
• Konsistensi pengelolaan sumber daya laut yang produktif,
• Kemampuan nelayan dalam menjaga volume produksi,
• Penguatan infrastruktur pelabuhan dan cold storage.
Rata-rata pertumbuhan per tahun: sekitar 10–12%.


Lonjakan Perikanan Budidaya

Nilai perikanan budidaya meningkat hampir dua kali lipat, dari Rp1,1 triliun (2020) menjadi Rp2,2 triliun (2024). Sektor ini tumbuh didorong oleh:
• Ekspansi tambak udang, rumput laut, dan keramba jaring apung,
• Teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan,
• Peran UMKM lokal dalam rantai pasok akuakultur.
Catatan: Masih dibutuhkan peningkatan kualitas pakan, bibit, dan sistem pengolahan limbah agar pertumbuhan tetap berkelanjutan.


Ekspor Perikanan: Kecil Tapi Konsisten Naik
Meskipun nilainya masih relatif kecil dibanding produksi, ekspor hasil perikanan Maluku Utara menunjukkan tren positif: dari Rp450 miliar (2020) menjadi Rp850 miliar (2024). Ini mencerminkan:
• Mulainya diversifikasi pasar ekspor,
• Permintaan global terhadap komoditas laut dari Indonesia timur meningkat,
• Perbaikan kualitas dan sertifikasi produk.
Potensi pasar ekspor terbuka luas, terutama ke Jepang, Tiongkok, dan Uni Eropa jika memenuhi standar mutu dan keberlanjutan.

Catatan Strategis LeSPOMIK:

  1.  
  2. 1. Peluang integrasi sektor perikanan dengan kawasan industri hilir (pengalengan, logistik dingin) harus ditingkatkan.
  3. 2. Insentif fiskal untuk budidaya berkelanjutan dan ekspor perlu diperluas.
  4. 3. Perluasan pelabuhan ekspor langsung (direct call) dari pelabuhan di Maluku Utara akan memangkas biaya logistik.
  5. 4. Penguatan data spasial dan ekologi laut penting untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan konservasi.

  6. Tren data 2020–2024 menegaskan bahwa sektor perikanan Maluku Utara bukan hanya tulang punggung ekonomi lokal, tetapi juga menjadi titik tumpu masa depan ekonomi biru Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat, sektor ini akan mendorong transformasi struktural dari ekonomi ekstraktif menjadi ekonomi maritim yang inklusif dan berkelanjutan.
  1.