Ternate, 7 Agustus 2025 — Provinsi Maluku Utara mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pada kuartal II tahun 2025, yakni mencapai 32,09% (yoy) — tertinggi secara nasional. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan dianalisis oleh Lembaga Studi Pembangunan Ekonomi Maritim dan Kepulauan (LeSPOMIK) menunjukkan bahwa akselerasi ini didorong oleh ekspansi sektor hilirisasi tambang, perikanan, serta peningkatan investasi di kawasan industri berbasis sumber daya alam.
Namun demikian, capaian pertumbuhan yang impresif ini masih dibayang-bayangi oleh tantangan struktural, khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di Maluku Utara per Q2 2025 tercatat sebanyak 77,27 ribu jiwa, atau sekitar 5,81% dari total penduduk.
“Kita menghadapi paradoks pertumbuhan: ekonomi tumbuh tinggi, tetapi tidak serta-merta menurunkan kemiskinan secara signifikan. Artinya, perlu ada transformasi dari pertumbuhan ekonomi sektoral menjadi pertumbuhan yang inklusif dan berbasis pemerataan,” ujar Dr. Abdul Chalid Ahmad, Direktur LeSPOMIK.
Data ini mengindikasikan bahwa hasil dari pertumbuhan belum sepenuhnya terdistribusi secara merata, terutama di wilayah pedesaan, pesisir, dan pulau-pulau kecil. Selain itu, masih terbatasnya akses layanan dasar, pendidikan, dan infrastruktur menjadi faktor penyumbang lambannya penurunan kemiskinan.
Rangkuman Indikator Utama Maluku Utara Q2 2025:
- Pertumbuhan Ekonomi: 32,09%
- Jumlah Penduduk Miskin: 77,27 ribu jiwa
- Persentase Penduduk Miskin: 5,81%
LeSPOMIK merekomendasikan agar pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Maluku Utara mengarahkan belanja fiskal dan kebijakan pembangunan pada sektor-sektor yang memiliki efek pengganda tinggi terhadap pendapatan masyarakat miskin, seperti perikanan rakyat, pertanian terpadu, serta pemberdayaan UMKM lokal.
Sumber data: www.bps.go.id

